Pulau Terluar Indonesia, Natuna

Terlalu munafik jika menganggap perjalanan ini adalah perjalanan yang tak berarti. Nyatanya? Ini adalah perjalanan yang memiliki arti mendalam baginya, seorang anak yang masih belum tau, kenapa ia dilahirkan di dunia ini. Bukit Raya, laut, pantai, gunung, pelabuhan, balai desa, maupun gedung sekolah itu menjadi saksi akan pelajaran tentang kehidupan yang didapat anak itu. Pelajaran tentang kehidupan yang menambah kemantapan kakinya untuk melangkah, memantapkan hatinya untuk memilih, dan semua kemantapan kemantapan yang disimpulkan olehnya. Sesunggahnya ia rindu, rindu akan semua hal yang telah dilaluinya. Andai mesin waktu itu benar benar ada, dapat dipastikan bahwa ia akan kembali mengulang itu semua, tak hanya mengulang tapi juga memperlambat putaran jarum jam, agar bisa lebih menikmati seluruh momen itu. Karena riuhnya kapal, deburan ombak, tangis dan tawa itu, menjadi sebuah candu. Anak itu berterimakasih untuk semua yang ada dan telah memupuk kembali semangat dan mimpinya yang telah mati, untuk bersemi dan tumbuh kembali.

untuk mengenang memori itu, beberapa orang menuliskan apa yang ia cinta, apa yang ia dapatkan, maupun apa yang ia rindukan. semua terekam dalam sebuah buku catatan, dan akan saya bagikan agar siapapun yang ingin menyegarkan memori akan momen itu tak sulit untuk mencarinya, dari saya untuk kalian. selamat merindu.

Published by senjadansamsoe

menulis apapun yang ingin ditulis, bercerita tentang apapun yang ingin diceritkan, dan berbagi tentang apapun yang ingin dibagi.

One thought on “Pulau Terluar Indonesia, Natuna

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started